Kamis, 29 Januari 2009

Peluncuran buku "Perpustakaan Digital - Kesinambungan dan Dinamika" oleh Putu Laxman Pendit, Ph. D

Buku baru dari Putu Laxman Pendit ini menunjukkan keranjingan penulisnya membahas fenomena yang amat menarik dari peradaban manusia berbasis teknologi komputer. Isinya penuh penjelasan yang mendalam dan serius, tetapi dalam bahasa yang tetap lugas dan menarik, tentang seluk beluk dan karakteristik Perpustakaan Digital. Hal menonjol yang amat kentara dari tulisan-tulisan Putu Laxman Pendit di buku ini adalah kegigihannya untuk mempertahankan pendapat bahwa Perpustakaan Digital adalah perpustakaan juga. Seperti teriakan penyanyi “Rocker juga manusia!”, Putu Laxman Pendit menegaskan, tanpa peradaban membaca dan kepustakawanan, tidak akan ada bentuk perpustakaan apa pun. Perpustakaan Digital hanya dapat dibangun di sebuah peradaban yang menghargai membaca dan buku sama pentingnya dengan menghargai kemajuan komputer dan Internet. Dalam tarikan nafas yang sama, Putu Laxman Pendit juga menegaskan bahwa Perpustakaan Digital adalah wujud dari sebuah dinamika yang mengakomodasi kemajuan-kemajuan teknologi. Jika kepustakawanan tak mampu mengadopsi kemajuan teknologi, jangan salahkan masyarakat yang meninggalkan institusi ini teronggok di sudut peradaban.

Terdiri dari 6 bab yang padat-berisi, buku ini menjawab berbagai pertanyaan teknis maupun teoritis, mulai dari model-model pengembangan perpustakaan masa kini, spesifikasi teknologi yang dibutuhkannya, pelestarian pustaka digital, sampai profesionalisme dan kondisi infrastruktur. Mengandung lebih dari 200 halaman yang berisi ilustrasi di sana-sini, buku ini kiranya adalah buku wajib bagi mereka yang berminat mengembangkan Perpustakaan Digital dan bagi masyarakat umum yang tertarik untuk memanfaatkan Perpustakaan Digital untuk berbagai kepentingan organisasi, komunitas, maupun masyarakat yang lebih luas.

Forum Indonesia Membaca bekerja sama dengan Museum Mandiri, Friends of Mandiri Museum dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) mengundang anda untuk hadir dalam peluncuran buku "Perpustakaan Digital - Kesinambungan dan Dinamika" yang akan diselenggarakan pada:

Hari/tanggal : Jum'at, 30 Januari 2009
Waktu : 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Museum Mandiri Lt. Dasar - R. Audio Visual
Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Kota - Jakarta Barat
(seberang halte busway Kota dan Stasiun KA Beos)
Acara : 1. Pengantar oleh Harkrisyati Kamil - Presiden ISIPII
2. Pengantar isi buku oleh Putu Laxman Pendit, Ph. D
3. Ulasan buku oleh Luki Wijayanti, Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia & Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia

Informasi selanjutnya hubungi:
Forum Indonesia Membaca
Museum Mandiri Lt. 1
Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Kota - Jakarta 11110
Tlp. 021 - 70030093/6
Email. indonesiamembaca@yahoo.com

Kamis, 15 Januari 2009

January 2009: 15 Pokok Perhatian Perpustakaan dan Kepustakawanan Indonesia

Menjelang akhir tahun 2008, telah diselenggarakan Diskusi "Kepustawanan Indonesia : Kecerdasan Sosial, Kebebasan Informasi, Tinjauan Akhir Tahun", Komnas HAM, 22 Desember 2008 yang dihadiri oleh 18 pustakawan dari berbagai lembaga. Tujuan utama nya adalah untuk mengetahui perkembangan kepustakawanan Indonesia dan sekaligus mencoba mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kepustakawanan Indonesia sekaligus menggugah pustakawan berperan aktif sebagai bentuk pengabdiannya bagi masyarakat madani.

Menyadari bahwa semua ini hanya akan terwujud dengan adanya partisipasi aktif dari komunitas pustakawan, maka notulensi pertemuan selanjutnya disebut 'Position Paper' memuat 15 isyu yang dihadapai perpustakaan dan kepustakawanan Indonesia saat ini.

Kepedulian Anda sebagai puskawan dapat diirefleksikan dengan menuliskan tanggapan/masukan mungkin dilengkapi dengan pengalaman/pengamatan. Dokumen ini akan makin kaya dengan tanggapan/masukan tersebut dan pada akhirnya kita
akan memperoleh benang merah tentang arah perkembangan kepustakawanan yang
tentu akan berhasil apabila memperoleh dukungan moral dari pustakawan Indonesia.


Silahkan kirimkan masukan/tanggapan ke info.isipii@gmail.com atau yuliasmini@gmail.com

Full Report - PDF lihat disini: http://docs.google.com/gview?a=v&attid=0.1&thid=11ede6e1cf1b36a0&mt=application%2Fpdf

or

TANTANGAN DAN PERMASALAHAN KEPUSTAKAWANAN INDONESIA

15 Pokok Perhatian yang Perlu Segera Mendapat Perhatian Bersama

Buku adalah soko guru peradaban berbasis informasi dan pengetahuan. Perpustakaan memungkinkan peradaban itu tetap berlangsung, baik dengan mempertahankan peran buku, maupun dengan memanfaatkan teknologi informasi terbaru. Pengelola institusi ini disebut pustakawan, dan keseluruhan kegiatan pengelolaan itu disebut kepustakawanan. Secara sempit kepustakawanan sering hanya dihubungkan dengan kegiatan teknis yang dilakukan pustakawan. Ini adalah pandangan yang salah.

Kepustakawanan memang berintikan sebuah profesi, yaitu pustakawan. Profesi ini memegang teguh nilai-nilai tentang kualitas, kehormatan, dan kebersamaan. Pustakawan bekerja berdasarkan etos kemanusiaan sebagai lawan dari kegiatan pertukangan semata. Pustakawan adalah fasilitator kelancaran arus informasi dan pelindung hak asasi manusia dalam akses ke informasi. Pustakawan memperlancar proses transformasi dari informasi dan pengetahuan menjadi kecerdasan sosial atau social intelligence. Tanpa kepustakawanan, sebuah bangsa kehilangan potensi untuk secara bersama-sama menjadi cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat.

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia tak ingin terpuruk dan tercekik krisis yang seakan tak ada hentinya. Indonesia memerlukan Kepustakawanan agar dapat bersama-sama menjadi cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat. Untuk membangun Kepustakawanan Indonesia diperlukan kesungguhan menghadapi 15 pokok perhatian yang terkelompok menjadi empat isyu besar, yaitu:

· Profesionalisme pustakawan.
· Akuntabilitas dan kredibilitas.
· Pendanaan dan standardisasi.
· Landasan ilmu dan pemanfaatan teknologi informasi.

PROFESIONALISME
Undang-Undang Perpustakaan menyatakan bahwa institusi perpustakaan dipimpin oleh seorang ahli yang berlatarbelakang pendidikan ilmu perpustakaan. Ketentuan ini harus ditegakkan dengan memastikan bahwa Kepala Perpustakaan di semua jenis perpustakaan memang dijabat oleh orang yang tepat dan cocok. Tantangan dan persoalannya:

1. Di jajaran seluruh jajaran pemerintahan terjadi pola penempatan Kepala Perpustakaan secara serampangan tanpa memedulikan asas ketepatan dan kecocokan. Pola ini meluas di seluruh Indonesia dan seringkali dilakukan secara sengaja.

2. Di kalangan swasta terjadi kesimpangsiuran dan kesalahpahaman tentang fungsi Kepala Perpustakaan. Banyak Kepala Perpustakaan yang tidak dapat menjalankan tugas dan wewenangnya secara profesional dan tidak diapresiasi secara wajar.

3. Di sekolah-sekolah belum terdapat kejelasan tentang fungsi dan tugas ‘guru-pustakawan’ atau ‘pustakawan-guru’. Perpustakaan di sekolah-sekolah sering dijalankan tanpa manajemen yang memadai antara lain karena dipimpin oleh orang yang tidak mampu, tidak tepat, dan tidak cocok sebagai Kepala Perpustakaan.

Ketiga persoalan nyata di lapangan tersebut ditengarai sebagai wujud dari persoalan yang lebih mendasar yaitu kekurangtahuan dan ketidakpedulian tentang profesi pustakawan. Kedua hal negatif ini harus dihilangkan. Tanpa apresiasi yang benar dan memadai tentang pustakawan maka perpustakaan-perpustakaan di Indonesia akan berjalan secara serampangan, sporadis, dan tumpang-tindih; mengurangi potensi institusi ini yang secara bersama-sama dapat bertindak sebagai pondasi bagi bangsa yang maju dan berkepribadian di bidang pengetahuan dan informasi.

AKUNTABILITAS DAN KREDIBILITAS
Mengingat hakikat dasar perpustakaan sebagai institusi yang berupaya membuka akses pengetahuan dan informasi seluas-luasnya bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat di Indonesia, maka adalah wajar bahwa perpustakaan-perpustakaan yang terbuka untuk umum harus semakin banyak tersedia di Indonesia. Sesuai yang diamanatkan Undang-Undang, untuk mewujudkan keberadaan perpustakaan-perpustakaan seperti itu diperlukan dukungan penuh dari Pemerintah, selain juga partisipasi dari masyarakat yang seluas mungkin. Tantangan dan persoalannya:

4. Selama berpuluh-puluh tahun, tidak ada koordinasi dan visi-misi yang jelas dalam pelaksanaan perpustakaan di Indonesia. Potensi kepustakawanan Indonesia musnah oleh diskoordinasi, proyek-proyek pemerintah yang sporadis, perencanaan yang amburadul, dan ketiadaan kepemimpinan (leaderships). Keadaan ini bertambah parah ketika tidak ada kejelasan tentang fungsi-fungsi institusi informasi seperti arsip, perpustakaan dan dokumentasi.

5. Hal serupa terjadi pada upaya masyarakat umum untuk membantu pengembangan kepustakawanan. Banyak niat-baik anggota masyarakat untuk ikut membangun kepustakawanan terhambat, baik oleh ketidaktahuan maupun oleh kesalahpahaman. Lebih menguatirkan lagi, banyak niat-baik ini akhirnya tak mencapai tujuannya karena disalahgunakan untuk kepentingan popularitas sesaat, atau untuk menghabiskan dana pemerintah yang tidak diawasi oleh sebab-sebab yang sudah diurai di butir 4 di atas.

6. Diskoordinasi yang sudah amat parah dan ketiadaan fokus menyebabkan kepustakawanan di Indonesia kehilangan kredibilitas. Perpustakaan sering hanya dianggap gedung atau ruangan seadanya, dan dikelola secara amatiran tanpa kesinambungan. Akibatnya, perpustakaan-perpustakaan Indonesia tak dekat dengan masyarakatnya dan diabaikan pula.

7. Sudah terlalu banyak ‘gerakan’ yang dilakukan untuk mempromosikan kepustakawanan, namun semua gerakan ini tidak tepat sasaran oleh sebab-sebab yang sudah diuraikan di atas atau dikooptasi untuk kepentingan pribadi. Ini menambah buruk citra dan menurunkan kredibilitas kepustakawanan Indonesia di mata masyarakatnya.

PENDANAAN DAN STANDARDISASI
Sesungguhnya, berkat tekad yang bulat untuk memajukan pendidikan, bangsa Indonesia telah berkehendak menyediakan dana untuk keperluan pendidikan. Sudah sewajarnya kehendak ini juga tersalurkan dan terwujudkan dalam bentuk pengembangan perpustakaan, khususnya di sekolah dan perguruan tinggi, namun juga di masyarakat luas dalam bentuk perpustakaan untuk umum yang menunjang pendidikan seumur hidup. Tantangan dan persoalannya:

8. Oleh sebab-sebab yang sudah diuraikan di butir 4 sampai 7, telah terjadi dua hal yang amat merugikan bangsa Indonesia. Pertama, perpustakaan tak mendapat dana yang memadai oleh anggapan keliru bahwa institusi ini bukan termasuk pilar pendidikan. Kedua, dana yang ada pun tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya sebab memang tidak dikelola dengan profesional dan akuntabel. Kedua hal ini harus dihentikan, khususnya ketika bangsa ini sudah bertekad menyediakan 20% anggaran pembangunan untuk pendidikan. Perlu ditegaskan secara lebih tersurat alokasi yang cukup dari anggaran pembangunan pendidikan.

9. Sebagai kegiatan yang bersifat nasional dan meluas, kepustakawanan sesungguhnya memerlukan standar yang jelas dan terukur. Indonesia ketinggalan amat jauh dibandingkan negara-negara lain. Banyak sekali -kalau tidak dapat dikatakan hampir semua- kegiatan perpustakaan, baik yang dilakukan pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum dan perorangan, diselenggarakan tanpa standar. Kalaupun ada standar, pada umumnya standar itu dibuat untuk keperluan birokrasi dan administrasi yang kurang memperhatikan hakikat perpustakaan sebagai institusi sosial-budaya masyarakatnya.

10. Pengawasan mutu dan pembelajaan dana di bidang perpustakaan sangat kurang, kalau tak dapat dikatakan tiada sama sekali. Celah penyalahgunaan dana amatlah besar, baik oleh kesengajaan maupun oleh mismanagement. Secara lebih spesifik, tak ada mekanisme dan prosedur untuk mengaitkan dana perpustakaan dan mutu yang dapat dirasakan oleh masyarakatnya. Dibandingkan negara-negara lain, kepustakawanan Indonesia amat tertinggal dalam hal penjaminan mutu.

LANDASAN ILMU DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI
Indonesia boleh bangga sebab pendidikan bagi profesi pustakawan sudah hadir sejak 1954, pada masa awal kemerdekaan. Kenyataan historis ini menunjukkan penghargaan bangsa pada pentingnya profesi pustakawan untuk kemajuan pengetahuan. Sekarang, tak kurang dari 13 perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan di bidang perpustakaan baik di tingkat diploma, sarjana, maupun magister. Namun aset yang amat besar ini terancam tak terwujud menjadi modal karena persoalan-persoalan berikut:

11. Para penyelenggara pendidikan kehilangan orientasi ilmu dan terpaku pada pengajaran hal-hal teknis. Ini ikut menyumbang pada kesalahpahaman di masyarakat tentang profesi pustakawan dan menjadi salah satu penyebab utama mengapa citra pustakawan di Indonesia sangat dilecehkan sebagai ‘tukang’ semata. Dibandingkan negara-negara lain, pendidikan Indonesia sangat kurang menghargai filsafat, ilmu, dan metodologi perpustakaan yang sudah teruji. Para penyelenggara dan pengajar jurusan ilmu perpustakaan terlalu berorientasi teknis.

12. Salah satu sebab dari orientasi yang terlalu teknis itu adalah ketiadaan pengakuan terhadap keabsahan Ilmu Perpustakaan yang saat ini di dunia bahkan sudah berkembang menjadi Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Di kalangan akademisi maupun penyelenggara perguruan tinggi dan penyelenggara pemerintahan di bidang ini, pemahaman dan apresiasi tentang Ilmu Perpustakaan dan Informasi amat kurang. Selalu ada hambatan untuk mengembangkan ilmu ini, antara lain karena semua pihak menganggapnya ‘bukan ilmu’.

13. Penguasaan Ilmu Perpustakaan dan Informasi -sebagai lawan dari penguasaan keahlian teknis semata- diyakini dapat menjamin implementasi teknologi yang baik, benar, dan tepat guna guna membangun masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan. Pelecehan terhadap Ilmu Perpustakaan dan Informasi, baik oleh akademisi, penyelenggara pendidikan, maupun pemerintah, menyebabkan ketertinggalan kita dalam memanfaatkan teknologi informasi di bidang perpustakaan.

14. Penguasaan Ilmu Perpustakaan dan Informasi diyakini dapat pula menjadi penyeimbang bagi dominasi penggunaan teknologi informasi sebagai alat industri dan bisnis belaka. Melalui pemahaman tentang filsafat, ilmu, dan metodologi yang benar, maka profesi pustakawan dapat menjadi fasilitator bagi pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan Indonesia yang cerdas, berpengetahuan, dan bermartabat. Pelecehan terhadap Ilmu Perpustakaan dan Informasi menyebabkan pustakawan kurang berperan dalam hal ini dan akhirnya semata-mata menjadi konsumen dari alat-alat teknologi. Pada gilirannya, pustakawan juga tak dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi informasi bagi kepentingan mereka.

15. Untuk mewujudkan potensi pendidikan yang menghasilkan profesionalisme di bidang perpustakaan amatlah penting menyelaraskan kurikulum semua penyelenggara pendidikan di bidang ini. Bersamaan dengan itu, penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan kondisi dan kebutuhan sesungguhnya dengan masyarakat Indonesia, termasuk dalam menyediakan kekhususan ilmu untuk profesi-profesi spesifik.

Daftar Hadir Peserta
Diskusi “Kepustawanan Indonesia : Kecerdasan Sosial,
Kebebasan Informasi, Tinjauan Akhir Tahun”
Komnas HAM, 22 Desember 2008


No/Nama/ Institusi/ Lembaga
1. Harkrisyati Kamil/ISIPII
2. Luthfiati Makarim/Perpusnas RI
3. Ruth Novita/UPH
4. Putu Pendit/ISIPII
5. M. Ridho/Depdiknas
6. Mahmudin eM/CIKAL
7. Maryani Koswara/CIKAL
8. Subagja/CIKAL
9. Dessy Sekar/ Forum Indonesia Membaca
10. Hanna Latuputty/APISI
11. Sukadi/ELSAM
12. Rere/ICW
13. Mujiono Iswan/Perpumda
14. Farly Elnumeri/PSHK
15. Tanwil/Perpumda
16. Arya Pandu /Perpus FIM
17. Yuli Asmini/ISIPII / APII
18. Margaretha/Apisi

Kamis, 13 November 2008

Marketing the library

Apa sich Marketing the Library

Mau tau? dan bagaimana melakukannya...simak dan baca penjelasan dari Ohio Library Council berikut ini....(ups...maaf belum di translate...gpp yach ;-p cheers...ISIPII)

FAQ and Tips for Supervisors!
1.OverviewWhat is marketing? Why do libraries need it?
2.PlanningMarket plans, market research, the process.
3.ProductsWhat are library "products"?
4.PromotionWhat are the best promotion strategies?
5.InternetWeb marketing, design, guidelines, new ideas.
6.OhioHow does Ohio market and promote libraries?


Marketing Overview
Introduction to Marketing the Library Module 1

What's in this module?
The Overview module is an introduction to the process of marketing and to the materials covered in the Planning, Product, Promotion, Internet, and Ohio modules.

Explore the marketing process
Are you a whiz at library marketing, but want a refresher, with links to helpful sites and some ideas from other libraries? Are you a pro at promotions, but a novice at assessing what different groups want from your library and targeting your services? "Marketing the Library" explores the marketing process.

Why market?
You're not the only information source in town anymore. You may not even be the only library in town because the Web offers access to many libraries! The availability of resources on the Web can change the way many users access information.
Public libraries often have better-than-Web resources and personalized assistance, but does your community know? Are you reaching everyone who could use your services and offering the right services? What's the best way to find out? What resources and services do users in your community actually want and have you asked lately? Marketing helps answer the questions!

Why libraries?
Some people need to know you're there. Others haven't visited for a while and need to know you're STILL there. A few others just want to know everything!
Libraries can benefit by letting the community know just what part of everything the library provides. Ultimately you want to match library strengths with users' needs. Marketing positions your library in the minds of the community as a "go-to" source for information and helps users understand what you have to offer them. Marketing builds good customer relations, and contributes to a positive relationship with media, businesses, local government agencies, and organizations.

A current catchphrase is "Go where the users are." This applies to delivery of library services and to marketing the library. New resources are available and new ways exist to market library services, communicate the value of the library, respond to increasing demands for mobile services, and meet the growing need to integrate delivery of services for users involved in online communities.

Often marketing is about changing perceptions -- ours and theirs! Everyone benefits when we find out what users really want, and when we let our community know everything that a library can do, in the library or on the Web.

Marketing Defined
Meeting needs of customers


Definitions
There are several definitions of marketing and more than one way to describe the process.

Example one
"The process of planning and executing conception, pricing, promotion, and distribution of ideas, goods, and services to create exchanges that satisfy individual and organizational objectives."
[Dictionary of Marketing Terms, 2nd edition, edited by Peter D. Bennett, published by the American Marketing Association, c1995. Also see Glossary of Marketing Definitions from IFLA.]

Example two
"A social and managerial process by which individual groups obtain what they need and want through creating, offering, and exchanging products of value with others."
[Kotler, Philip, 1997, Marketing Management, 9th edition, New Jersey, The United States, Prentice-Hall International, Inc.]
In libraries, the "exchange" part of the marketing process may consist of continued taxpayer support in exchange for valued library services.

Example three
"Marketing is the wide range of activities involved in making sure that you're continuing to meet the needs of your customers and getting value in return. Marketing is usually focused on one product or service. Thus, a marketing plan for one product might be very different than that for another product. Marketing activities include "inbound marketing," such as market research to find out, for example, what groups of potential customers exist, what their needs are, which of those needs you can meet, how you should meet them, etc. Inbound marketing also includes analyzing the competition, positioning your new product or service (finding your market niche), and pricing your products and services. "Outbound marketing" includes promoting a product through continued advertising, promotions, public relations and sales."
[Free Management Library]

The key is "process."
Planning and research are a key part of the process. Effective marketing requires quality research in order to assess what the library has to offer, what the users want, and how to match the two. The process includes several steps before publicity and promotion begin.

What is the process?

  • Know the library -- who are you, what is your mission?
  • Find out about your users -- who are they and what do they want?
  • Create products and services that users want.
  • Develop a plan of action with promotion strategies to market selected products to targeted users with appropriate methods.
  • Be sure you're doing it right -- establish measurable goals and evaluate how well you've done.
  • Start over!
Can you do too much?
Be careful what you wish for! What would happen if the library suddenly had twice as many users in the facility or visiting the web site? What if every program suddenly required limiting attendance? If you had more phone calls, and more visitors, and the lines for checkout extended out the door like the opening of a movie premier? Perhaps it's enough just to keep your regular users informed! Working through the process can help you determine when you've done enough.

Marketing is the process of planning, pricing, promoting, and distributing goods and services to create "exchanges" that satisfy the library and the customer. Marketing is ongoing and dynamic because customer needs and library products change. The marketing process determines the decisions and activities involved in continuing to meet the needs of customers.

Look in your favorite library and information science glossary, in marketing books in the library, or in online marketing glossaries for definitions of marketing.

  • Find at least three definitions of marketing. They won't all be the same, but all libraries aren't the same, and one will work best for you.
  • Do all of the definitions mention or imply a "process" of planning that includes several steps?

Why Market Libraries?
What does the community need to know about you?

What's a library?
Does everyone who could benefit from library services know about them? You may have new services and resources to offer that will benefit new users or keep current users coming back. A few users may not understand the services libraries have always had. Have you heard this before?

  • Gee, I didn't know you had movies!
  • You mean I can ask for a book from another library?
  • The library databases have full-text articles? Wow!
  • I can really search the catalog from home?
  • Oh, I really don't want to bother you -- I'll just look around for a while.

Do users understand the power of the library card, the systems that connect all libraries, and the availability of online library services? Many users do not know the difference between quality online databases and undirected web searching. Some users think only of a building instead of services when they think of the library.

Who uses the library? Who doesn't?
Do you know what percentage of the population in your area does not use the library, perhaps many who truly believe that everything is on the Internet? Marketing may be directed at those who don't use the library, to show them the value of library services. Marketing could mean survival! Libraries cost money, and marketing informs the community of the value of library services and the necessity of continuing to support the library. Marketing is a means of presenting the benefits of the library to all segments of your market, users and non-users.
In a marketing plan, you consider demand, competition, and the customer decision-making process. You determine what the community needs to know in order to decide that the library is a service worthy of continued support. The public library tradition is to offer needed services in the best way possible and the tradition of great service doesn't change -- but the methods do.

Marketing lets the community know that libraries continue to be an outstanding source of information in a changing world.


Look for statistics on library usage. Use a library professional yearbook, statistical resources, the Ohio State Library's "Ohio Public Library Statistics" site, or search a magazine database.

  • What are the numbers, how many people are using libraries?
  • What are the trends, are percentages going up or down?
  • What statistics are maintained by your library?

Steps of the Marketing Process
Marketing can be messy!

Just follow the yellow brick road...

The process of marketing is not always linear (do step 1, do step 2, etc.). For example:
The process starts with the mission, but sometimes knowing the customer better may lead you to reconsider the library's mission.

Assessing internal capabilities helps create a focus for market research into customer needs, but the research results may show a need to go back and change what the library is capable of delivering.

The marketing plan may need to be adjusted after each step.
Whatever the results, following the steps of the process will result in a stronger marketing plan.

What are the steps?
1. Begin the marketing process by examining your library's mission or purpose. (Module 2)
2. Assess library capabilities with a marketing audit, an internal assessment.
3. Find out what products (services) your users want and how they perceive the library through marketing research. (Module 3)
4. Develop goals and objectives based on your mission and the results of your internal audit and external research into what customers want.
5. To meet goals, select strategies to promote your products that will work best, be affordable, and reach your customers (Module 4). Include the Internet in your plan (Module 5). Look at what others are doing (Module 6).
6. Create a plan of action that describes all the steps needed to carry out the strategies for meeting goals. Outline the specific tasks, timelines, and assignment of responsibilities. Consider budget restraints.
7. Evaluate how well you have done. Evaluation may indicate that some goals can't be reached or can't be measured, some methods of promotion don't work as expected, or what's really needed is an entirely new plan!

Learn more about the marketing process in Module 2.

Good marketing plans are the result of a process that includes self-analysis, market research of your customers, establishing goals, using strategies based on your research, and evaluation.

Read the library's mission or statement of purpose.

  • Describe how reference, children's programs, a special collection, and the latest library event contribute to the library mission.
  • Can you think of a one new service that would significantly contribute to the library mission?

The Marketing Audit

What are the capabilities of the library?
What are your strengths and weaknesses?

Begin the planning process with a marketing audit to determine the library's capabilities, products, and challenges. The marketing audit establishes where the organization is, and why. The marketing audit can suggest directions to meet the library's mission or to improve library usage and performance.

The process of conducting the marketing audit contributes to the final marketing plan by providing a basis for informed decision-making. Effective marketing strategies must be based on internal capabilities, realistic assessment of what the library CAN do, not unrealistic or arbitrary goals. What makes your library unique or special? What do you have to offer? Who says so? What can you do? What can't you do? Can changes be made? What's holding you back?

Take a close, hard look...
The audit has two components: the library self-analysis of strengths and weaknesses and an assessment of the environment or situation in which the library operates. Assessing what the library can do may be difficult. Sometimes "what we've always done" makes it difficult to know "what we really could do."

The 4 Ps
The marketing audit also analyzes the "4P's" of marketing (i.e the marketing mix):

  • Product - library services available to clients such as interlibrary loan.
  • Price of Service - direct and indirect costs to produce and deliver the product, or actual fees if any.
  • Place - delivery and distribution of the products and services.
  • Promotion - methods to promote products.

Learn more about the marketing audit in Module 2 Planning.
A marketing audit is a systematic self-examination and assessment of the library's activities, including needs and capabilities, and the marketing mix (the 4Ps of product, price, place, and promotion).

Analyze the products of your library:

  • How many "products" does your library have to offer? Include services as well as resources.
  • Examples would be reference, children's programming, special events, etc.

Market Research
Assessing Customer Needs.
Know your customer!

What do your customers think about the library and the services you offer? How do they "perceive" the library? Marketers say that perception is reality. Market research helps you see the library through the eyes of your users. It is a way to quantify, to actually measure what your users want -- or find out what keeps some community members from using your services.
Typically, market research looks at a specific marketing problem or a product assessed in the marketing audit. You want to know what is or will be your users' response to a product or service. Market research is not an internal assessment -- instead you're looking at users. Traditionally libraries look at distinct groups of users (market segments) or "publics." Users are not all alike in their needs or expectations of the library. Despite those days when everybody seems to have an opinion, not all of your users are letting you know what they really want!

Internal vs. External
Marketing audits assess internal capabilities, but marketing research is external, gathering information about the needs and wants of users or potential users. Market research identifies possible opportunities, but also finds the problems and challenges, or external barriers to successful marketing of the library to the community.

Methods depend on the product, but also on staff and budget resources. Formal market research methods may include print surveys, telephone surveys, pilot tests, focus groups, user surveys, Internet polls, etc. Do market research sensitively -- if you ask people what they want, they tend to expect you to give it to them! Learn more about market research in Module 2.
Market research focuses on the customer. Before preparing a marketing plan, find out what your customers want and how they decide on which products and services they will use. Use the information you've gathered to develop a plan that targets specific groups or emphasizes a service the research indicates that users want.

Have you ever participated in a market survey? Do you respond to mailed or emailed surveys? Have you been part of a focus group? Do you fill out cards in restaurants or hotels about quality of service? Do you find it easy or difficult to tell businesses about poor service or good service? Do you respond to online surveys or polls?

  • During the next week, keep track of all the times your opinions are solicited -- on the Web, in stores while running errands, with telemarketers, by mail, on the back of trucks (How am I driving?), etc.
  • Think about your users. Which method do you think would get the best response from them: a focus discussion group, a telephone survey, a web survey, or a written survey to fill out at the circulation desk?

Next info....MARKETING PLAN...

Senin, 27 Oktober 2008

Brosur ISIPII


LEMBAR PENDAFTARAN ANGGOTA ISIPII

LEMBAR PENDAFTARAN ANGGOTA ISIPII - IKATAN SARJANA ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI INDONESIA

DATA PRIBADI

Nama lengkap sesuaI KTP:
Nama yang di kehendaki dalam Kartu:

Alamat:
Kota:
Kode Pos :

Tempat Lahir:
Tanggal Lahir/Bulan/Tahun:

No KTP/Passport:
No. Telepon:
No. HP:
Email:

PEKERJAAN

Nama Perusahaan/Instansi:
Pekerjaan:

Alamat Perusahaan/Instansi:
Kota:
Kode Pos:
No Telepon:
No Fax:
Email:

PEDIDIKAN-DALAM NEGERI

S1
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:

S2
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:

S3
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:

PENDIDIKAN -LUAR NEGERI

S1
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:
Kota/Negara:

S2
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:
Kota/Negara:

S3
Jurusan:
Fakultas:
Universitas/Tahun:
Kota/Negara:

BANK ACCOUNT

BCA: An/........................No.Rek..............................

MANDIRI:An/........................No.Rek..............................

BNI:An/........................No.Rek..............................

Lain-lain (sebutkan): An/........................No.Rek.............................

Persyaratan Administrasi
1. Pas foto berwarna (file maksimal 30KB)
2. Scanning ijazah sarjana yang di legalisir (file maksimal 50KB)
3. Uang iuran sebesar Rp. 25.000,- (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) per bulan atau Rp. 300.000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah) - dibayarkan 1 (satu) tahun dimuka, dan ditranfer ke rek. BCA Kcu. Wisma GKBI no. rek. 0060331553 a.n Hani Qonitah
4. Seluruh persyaratan administrasi dan bukti tranfer dikirimkan kembali ke sekretariat PP-ISIPII atau email ke info.isipii@gmail.com atau adef29@gmail.com

Kamis, 09 Oktober 2008

Knowledge Management: Report

Tarumanegara Knowledge Centre, Untar, Jakarta,15 July 2008

Didasari oleh kepedulian terhadap kebutuhaan pengetahuan pustakawan di tengah perkembangan teknologi informasi yang berdampak pada terjadinya fenomena baru dalam pengelolaan dan pertukaran pengetahuan , Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) bekerjasama dengan Tarumanegara Knowledge Centre (TKC) menyelenggarakan seminar sehari tentang Knowlege Management pada tanggal 15 Juli 2008 bertempat di aula TKC. Kegiatan ini diikuti oleh pengelola perpustakaan dan pusat informasi dari berbagai lembaga negeri dan swasta.
Para pembicara dalam seminar ini datang dari berbagai lembaga, perpustakaan dan pusat informasi, yaitu Putu Laxman Pendit sebagai keynote speaker, Endang Ernawati dari Universitas BINUS, Elly Juli Basri dari PPM-Manajemen, Iris Tutuarima dari Bank Indonesia, dan Utami Haryadi dari UI yang “bekerja rangkap” sebagai moderator.
Dalam sambutan sekaligus pembukaan, presiden ISIPII ,Yati Kamil menyampaikan harapan agar seminar ini dapat memberikan pengayaan wawasan bagi pustakawan yang akan diperoleh dari berbagi pengalaman antara nara sumber dan peserta tentang peran perpustakaan dalam manajemen pengetahuan.
Melalui keynote speechnya, Putu Pendit mengemukakan makna yang sesungguhnya tentang knowledge management yang disebut sebagai Mengelola Pengetahuan Bersama. Dalam uraiannya dikemukakan bahwa pengetahuan merupakan kumpulan komponen Ideas, Actions dan Things. Gagasan yang merupakan hasil pemikiran seseorang kemudian dikomunikasikan kepada orang lain untuk diketahui (knows) dan memiliki nilai (values) ketika diikuti dengan tindakan (Actions) aplikasi yang menghasilkan produk. Selanjutnya pemikiran yang diketahui tersebut digabung dalam kolaborasi yang mendorong inovasi peciptaan produk. Selanjutnya dikemukakan bahwa pengetahuan terbagi dalam dua bentuk yaitu Pengetahuan sebagai produk dan pengetahuan sebagai proses. Pengetahuan sebagai produk inilah yang melahirkan teori sistem, ilmu perpustakaan dan informasi, ilmu komputer, rekayasa bisnis, dan artifical intelligence. Sementara itu pengetahuan sebagai proses melahirkan teori organisasi, sosiologi, psikologi, komunikasi, filsafat dan pedagogy.
Pada pemaparan pertama, Rachmat Natajumena, senior library expert, sebagai kepala Tarumanegara Knowledge Centre (TKC) menjelaskan bahwa TKC lahir dari keinginan menciptakan academic atmosphere yang menjangkau lebih jauh dari batas-batas konsep konvesional perpustakaan, terutama dalam penciptaan citra perpustakaan yang modern. Dari dasar itu maka tercetuslah nama Knowledge Centre. Citra baru yang diharapkan lahir dari KC adalah bahwa lembaga ini memiliki koleksi “serba ada” dari koleksi kuno tulisan karya penulis jaman dulu (seperti Kho Ping Ho) sampai koleksi mutakhir. KC juga sangat mencerminkan kemajuan teknologi informasi dimana hampir semua layanan berbasis digital. Hal yang paling utama dalam paparan dari pak Rachmat dalah bahwa kehadiran TKC merupakan added value atau nilai tambah bagi UPT Perpustakaan Untar, dan bukan menjadi pesaing. Tidak ada manajemen yang tumpang tindih. Untuk itu maka koleksi yang terdapat di TKC adalah koleksi umum, bukan buku teks. Tidak terdapat koleksi untuk anak-anak karena mereka bukan merupakan target layanan TKC.
Dari pemaparan yang disampaikan oleh Endang Ernawati tentang pengalamannya menerapkan konsep KM di Binus Library dapat ditangkap sebuah konsep yang menarik. KM diterapkan dengan aktivitas knowledge capture, knowladge exchange, knowledge reuse dan pergerakan dari knowledge internalization ke arah learning organization, yaitu sebuah organisasi yang memiliki keahlian dalam penciptaan, perolehan dan penyebaran pengetahuan serta mengadaptasi aktivitas untuk merefleksikan pemahaman inovasi. Mengacu pada KM, Binus Library (LKC Binus) memiliki visis menjadi yang terdepan dalam pengembangan dan penyebaran informasi yang berkualitas. Semangat yang dibangun adalah knowledge sharing dan pengelola perpustakaan yang memiliki literasi informasi. Kerjasama dalam berbagi pengetahuan dilakukan Binus melalui pembangunan K-net sebagai pusat informasi digital Binus dan pembangunan LKC Website.
Elly Julia Basri, sang ‘empunya’ PPM-Manajemen membagi pengalamannya dengan mengurai perjalanan sejarah KM di PPM-Manajemen dari audit informasi ke knowledge creation, dan perubahan peran perpustakaan ke pusat informasi dalam pengembangan KM di PPM. Perubahan terdiri atas proses kegiatan peralihan, proses kegiatan pusat sumber informasi dalam KM-PPM. Dijelaskan juga tentang bentuk kerangka KM -PPM. Pelajaran yang dapat diperoleh dari proses perubahan ini adalah terjadinya bahwa untuk mendukung keberhasilan penerapan KM di PPM adalah diubahnya hubungan kerja dalam sistem, yaitu berubahnya peran kepala menjadi koordinator, hubungan unit dan direktorat menjadi kolaborasi mitra, sedangkan uraian kerja dari single task menjadi multitask. Perubahan lain adalah bertambahnya intensitas komunikasi internal PUSIN dengan unit lain dan direktorat. Perubahan ini juga harus diikuti kompetensi tehnis yaitu keterampilan IT dan multimedia, dan kompetensi perilaku berupa hasrat untuk berkembang dan mengembangkan pihak lain (developing others). Diketahui juga bahwa dukungan dan komitmen pimpinan keberhasil proses perubahan, dan yang terutama adalah semua komponen harus mau terus belajar dan berbagi pengetahuan dengan sesama pustakawan dan komunitas KM.
Sebagai tanggung jawab sosial terhdap kemajuan masyarakat, Bank Indonesia, seperti yang diuraikan oleh Iris Tutuarima, membuat sebuah program bernama Program Desa Kita yang salah satu bentuknya adalah membantu masyarakat untuk membangun perpustakaan. Satu tempat didirikannya perpustakaan bantuan BI yang dikemukakan bertempat di Desa Mekarjaya, Jawa Timur. Namun tidak seperti konsep yang umumnya digunakan dalam pendirian perpustakaan desa yang dilakukan oleh pemerintah, pendirian perpustakaan di desa tersebut menggunakan pendekatan kebutuhan lokal. Diawali dengan membangun persahabatan (gain frienship) dengan masyarakat setempat, pihak BI mencoba mendapatkan informasi tentang harapan dari mereka (understanding expectatons) dan kemudian menerjemahkan kebutuhan tersebut dalam bentuk program kegiatan. Akhirnya dengan kerjasama, program pendirian perpustakaan dikerjakan sesuai keinginan masyarakat dan ini melahirkan keterikatan masyarakat pada perpustakaan yang mereka dirikan dan tanggung jawab yang besar dalam memeliharanya.
Seminar dan diskusi diakhiri dengan uraian ringkas pengalaman Utami Haryadi semasa bekerja di Pricewaterhouse di mana tuntutan seorang ahli perpustakaan untuk berkreasi sangatlah tinggi. Dari uraian itu juga terungkap bahwa masih banyak keahlian dan kreativitas yang masih harus dikuasai oleh mereka yang bergerak dalam bidang perpustakaan karena kebutuhan akan informasi sangatlah tinggi.

--------------------------

Kamis, 31 Juli 2008

Ditunda: Managing Change in Library & Information Science

Dengan Hormat,

Dengan amat menyesal, kami memberitahukan bahwa kursus penyegar ”Managing Change in Library & Information Science” Refreshing Course on Library and Information Sciences: yang sedianya akan diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) pada tanggal 5-7 Agustus terpaksa ditunda karena alasan teknis. Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dengan adaya perubahan jadwal tersebut dan mudah2an tidak menyurutkan semangat Bapak/Ibu untuk tetap mendukung ISIPII pada kegiatan yang akan dijadwalkan ulang.setelah Hari Raya Idhul Fitri.

Atas pengertian Bapak/Ibu kami ucapkan terimakasih.

Salam Hormat,

Yati Kamil